Di Giannantonio Keluhkan Jadwal 22 Seri MotoGP Terlalu Padat

Fabio di Giannantonio secara terbuka mengkritik kalender MotoGP 2025 yang mencakup 22 seri dan 44 balapan karena dianggap terlalu padat dan membebani fisik serta mental pembalap. Artikel ini mengulas pandangannya lengkap, alasan di balik kritik, respons pembalap lain, dan dampaknya bagi musim.


1. Kalimat Tegas dari Di Giannantonio soal Jadwal MotoGP 2025

Fabio di Giannantonio, pembalap dari Pertamina Enduro VR46 Racing Team, tidak menahan diri mengkritik kalender MotoGP 2025 yang kini mencapai 22 seri dengan total 44 balapan (termasuk sprint). Menurutnya, jumlah ini terlalu banyak dan membuat pembalap kelelahan di luar batas wajar. “Terlalu banyak (balapan). Terlalu banyak hari perjalanan, terlalu berat bagi tubuh. 44 balapan, itu terlalu banyak,” ujarnya setelah akhir musim di Valencia. Yahoo Sports

Di Giannantonio menekankan bahwa jadwal yang padat ini mengurangi waktu latihan terstruktur, karena mayoritas persiapan fisik dilakukan di awal tahun — seperti di Januari — tapi sepanjang musim pembalap hanya “mengusahakan mempertahankan kondisi” tanpa cukup waktu istirahat atau latihan tambahan. Ligaolahraga.com


2. Dampak Fisik & Mental pada Pembalap

Menurut Di Giannantonio, kalender panjang tersebut bukan hanya soal banyaknya balapan, tapi juga banyaknya hari perjalanan dan sedikit waktu untuk pulih di antara seri. Ia menjelaskan bahwa perjalanan dari satu benua ke benua lain, ditambah sesi latihan, kualifikasi, sprint, dan balapan utama membuat tubuh pembalap terus dipaksa bekerja. Yahoo Sports

“Kamu berlatih banyak dalam satu bulan (Januari), lalu sepanjang musim kamu hanya mencoba mempertahankan kondisi terbaik. Wajar jika kondisi fisik sedikit menurun,” katanya sambil menegaskan bahwa meskipun tugas ini bagian dari pekerjaan mereka, esensinya tetap berat secara fisik dan mental. Yahoo Sports


3. Keluhan Rekan Setim & Pembalap Lain

Di Giannantonio bukan satu‑satunya yang merasakan tekanan kalender. Johann Zarco, pembalap LCR Honda Castrol, juga sependapat bahwa efek dari 22 seri terasa berat bagi tubuh. Ia menyoroti bahwa pembalap sering harus langsung kembali fokus untuk tes Valencia tak lama setelah balapan terakhir musim, menyisakan sedikit waktu istirahat yang memadai. Yahoo Sports

“Tubuh merasa berat oleh beban 22 balapan,” ujar Zarco, menegaskan bahwa waktu istirahat musim dingin seharusnya lebih panjang agar pembalap bisa “kembali dengan energi lebih baik”. Yahoo Sports


4. Pandangan Pembalap Lain yang Lebih Netral

Walaupun sebagian besar peserta setuju kalender sangat menuntut, ada juga suara yang sedikit berbeda soal persepsi beban kerja. Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) mengakui jadwal yang penuh memang menantang tetapi menyatakan bahwa persepsi soal jadwal sangat dipengaruhi oleh hasil dan suasana hati pembalap. Bagi yang tampil baik, musim cepat berlalu dan beban terasa lebih ringan. Archyde

Bezzecchi mengatakan bahwa 22 seri ditambah 44 balapan memang membuat musim berat secara fisik dan mental, tetapi hubungan positif dengan tim dan hasil bagus dapat memengaruhi cara pembalap mengalami kalender panjang tersebut. Archyde


5. Alasan di Balik Kalender Panjang MotoGP 2025

Ekspansi kalender MotoGP di musim 2025 tidak terjadi secara kebetulan. Kepanjangan musim salah satunya didorong oleh penambahan balapan baru di Hungaria, serta kembalinya seri di Republik Ceko dan Argentina setelah sebelumnya tidak digelar. Ditambah lagi, format sprint yang kini menjadi bagian dari setiap balapan sejak 2023, berarti setiap akhir pekan balap memiliki dua ajang berbeda untuk pembalap. News.GP

Dengan tren globalisasi dan eksplorasi pasar baru — mirip dengan strategi yang dilakukan Formula 1 — MotoGP terus bertambah seri demi menarik jumlah penonton dan sponsor yang lebih besar. News.GP


6. Dampak pada Latihan & Kebugaran Pembalap

Salah satu poin terpenting dari kritik Di Giannantonio adalah terbatasnya waktu untuk latihan fisik secara optimal di tengah musim. Ia menjelaskan bahwa meskipun pembalap melakukan persiapan intensif sebelum musim, jadwal yang padat membuat mereka sulit mempertahankan tingkat kebugaran yang sama sepanjang musim. Yahoo Sports

Perjalanan panjang antarbenua, perubahan jam tubuh, serta jadwal yang rapat membuat pemulihan fisiologis menjadi tantangan serius, terutama jika dibandingkan dengan era MotoGP sebelumnya yang lebih sedikit seri dan sprint. News.GP


7. Enggak Semua Setuju Penjadwalan Harus Dirubah

Pandangan berbeda juga disampaikan oleh pembalap lain seperti Francesco Bagnaia dari Ducati, yang menyatakan bahwa ia siap menghadapi kalender yang panjang. Menurut Bagnaia, meskipun musim terasa berat, kalender seperti ini adalah kondisi kerja yang adil dan tim serta pembalap harus menikmatinya. Yahoo Sports

Selain itu Pedro Acosta dari KTM melihat jumlah balapan sebagai peluang untuk tetap mengasah ritme bersama tim, meskipun mengakui bahwa konsekuensi cedera jadi semakin berat di musim panjang. Yahoo Sports


8. Kesimpulan

Komentar Fabio di Giannantonio soal jadwal MotoGP 22 seri terlalu padat mencerminkan kekhawatiran nyata di antara para pembalap atas beban fisik dan mental musim 2025. Dengan jumlah seri dan balapan sprint yang meningkat drastis, pembalap berjuang mencari keseimbangan antara kompetisi, pemulihan, dan latihan fisik. Pendapatnya didukung oleh rekan satu paddock, meskipun ada juga suara yang melihat sisi positif dari kalender yang luas. Perdebatan ini menyoroti kebutuhan untuk mengevaluasi kesejahteraan atlet di tengah ekspansi global MotoGP.